Timah Mendidih Diminumkan Kemanusia Hidup-Hidup

Tondi Dohot Begu

Tubuhnya di kubur dengan posisi berdiri didalam tanah, hanya kelihatan kepalanya saja. Setelah beberapa waktu ia sangat kehausan dan lapar kemudian disampaikan” kami akan memberikan makan dan minum yang enak menurut kemauanmu asal engkau mau kemanapun kami perintahkan pergi”. Karena haus dan laparnya orang itu menyanggupi permintaan tersebut. Lalu diminta untuk membuka mulutnya agar dapat minum, setelah orang tersebut membuka mulutnya yang di tuang ke dalam mulut orang tersebut bukanlah air sejuk pengobat dahaga, tetapi cairan timah panas yang sedang menggelegak sehingga orang itu pun mati seketika itu juga. Itulah ritual yang dilakukan “orang dahulu” untuk membuat penjaga kampung atau sejenis santet pembunuh “musuh” yang di sebut Pangulubalang surusuruon.

Baca lebih lanjut

Iklan

MENGEMBALIKAN PULAU MALAU

(Halaman 6 dari 7)

Nyi dan NagaSetelah ada ijin dari pihak Sidauruk maka pada Tanggal 28-30 Juni 2001 diadakanlah gondang dipulau malau sebagai tanda bahwa pulau malau telah kembali sekaligus mempersatukan keturunan orang tuanya Guru Tatea Bulan/Sibaso Bolon. Semua keturunan iboto Nantinjo hadir dalam acara tersebut, bahkan hadir hasorangan yang jumlahnya delapan belas orang yang membawakan nama Nantinjo datang pada saat itu.

Baca lebih lanjut

NAMBORU MENGADAKAN GONDANG DI TAMAN MINI INDONESIA INDAH


(Halaman 5 dari 7)

Ratu pantai selatanUntuk mempersatukan seluruh keluarga dari saudaranya laki-Iaki (ibotonya) namboru Nantinjo mengadakan Pesta Budaya Batak di Taman Mini Indonesia Indah (TMIl) pada tanggal 7 Oktober 2000. Seluruh keturunan (pomporan) ibotonya pada saat itu hadir dalam acara tersebut. Pada kesempatan itu namboru Nantinjo menceritakan riwayat hidupnya, serta memperagakan bagaimana dia tenggelam di danau toba. Seluruh keturunan ibotonya itu sangat antusias ingin mengetahui sejarah yang sebenarnya.

Baca lebih lanjut

TURUNNYA ROH NANTINJO


(Halaman 4 dari 7

Setelah Nantinjo tenang bersama ibunya disisi Yang Kuasa, pada suatu hari ibunya meminta Nantinjo untuk turun kebumi untuk melihat keturunan ibunya. Itulah pertama sekali Nantinjo menumpang ke tubuh orang (marhuta  hula) di desa sagala. Pada saat itu ada seorang ibu, istri dari marga sagala sedang pendarahan dan Nantinjo menumpang ke tubuh orang yang kurang waras.

Baca lebih lanjut