Lipat Tangan Tutup Mata Tundukkan Kepala

Rahasia Doa Kristen Protestan

Doa adalah sumber pengharapan, kekuatan dan kehidupan bagi orang yang percaya baik dalam keadaan susah maupun senang. Tentunya bagi orang yang percaya  adanya kekuatan universal yang selalu setia memberikan apa yang di diminta kapan saja dan di mana saja.

Kelihatannya lipat tangan, tutup mata dan tundukkan kepala seperti doa seorang seorang anak sekolah minggu, namun makna terkandung dalam sikap tersebut sungguh luas, lengkap dan luarbiasa. Setiap sikap adalah mencerminkan lambang dan makna yang tersirat dan tersurat akan tujuan dan keinginan yang ingin di sampaikan.

Lipat Tangan

Doa adalah cermin dari kehidupan iman seseorang. Alkitab mengatakan Iman adalah bukti dari segala sesuatu yang tidak kelihatan dan dasar dari segala sesuatu yang di kerjakan, Karena itu dengan melipat tangan kita siap akan paket apa saja yang akan disampaikan oleh malaikat Allah kepada kita dengan keyakinan paket itu adalah yang terbaik.

Tutup Mata

Dengan tutup mata kita tidak akan memilih apa yang di berikan Allah kepada kita melainkan dengan penuh keyakinan kita percaya bahwa yang di berikan adalah yang terbaik.

Tundukkan Kepala

Berarti ya akan semua yang di berikan kepada kita.

 

Iklan

KORBAN PERSEMBAHAN KERBAU

Dalam budaya orang Batak Toba, sebelum agama Kristen dan Islam masuk ke Tanah Batak, persembahan kerbau telah digunakan dengan tiga alasan. Pengaruh agama Hindu dan Buddha telah lebih dulu masuk ke wilayah Tano Batak.

Menurut pendapat beberapa ahli purbakala, seperti ditulis oleh Ir. Bisuk Siahaan dalam bukunya Batak Toba, ada tiga teori mengenai pengaruh agama Hindu dan Buddha terhadap masyarakat Batak tempo dulu.

Pertama menurut L. J. Warneck: pengaruh Hindu di Tanah Batak datang dari Pulau Jawa. Hal ini terlihat dari beberapa istilah agama yang dikutip dari ajaran Hindu, misalnya Debata (dalam bahasa Batak) yang berasal dari kata Deva (bahasa Hindu-Jawa) dengan arti: Tuhan.

Teori kedua oleh W. Kodding, Edwin M. Loeb, dan J. Tideman: pengaruh agama Hindu di Tanah Batak langsung dari pedagang India. Tampak pada tulisan mitologi, bahasa, kalender, buku Pustaha Laklak, permainan catur, pembakaran mayat, dll.

Pendapat ketiga, yang kurang banyak pendukungnya: pengaruh Hindu di kawasan Batak datang dari Sumatera Selatan.

Di zaman dulu, saat pesta bius, selalu didirikan sebatang tonggak kayu (borotan) berhiaskan daun beringin sebagai simbol Pohon Hidup. Pada borotan ditambatkan seekor kerbau sebagai persembahan bagi Mula Jadi Nabolon.

Kerbau dipersembahkan sebagai kurban dengan tiga alasan:

1. Dianggap sebagai hewan paling kaya dari semua binatang piaraan; mempunyai dua tanduk, empat pusat, dan sangat perkasa.

2. Sepasang tanduk kerbau merupakan lambang keturunan dua nenek moyang orang Batak, yakni Lontung dan Sumba.

3. Kerbau selalu setia membantu manusia, misalnya membajak sawah, agar hasil pertanian melimpah-ruah.

Sumber :http://bataknews.wordpress.com

MENGEMBALIKAN PULAU MALAU

(Halaman 6 dari 7)

Nyi dan NagaSetelah ada ijin dari pihak Sidauruk maka pada Tanggal 28-30 Juni 2001 diadakanlah gondang dipulau malau sebagai tanda bahwa pulau malau telah kembali sekaligus mempersatukan keturunan orang tuanya Guru Tatea Bulan/Sibaso Bolon. Semua keturunan iboto Nantinjo hadir dalam acara tersebut, bahkan hadir hasorangan yang jumlahnya delapan belas orang yang membawakan nama Nantinjo datang pada saat itu.

Baca lebih lanjut