SILSILAH SIRAJA BATAK

Iklan

KORBAN PERSEMBAHAN KERBAU

Dalam budaya orang Batak Toba, sebelum agama Kristen dan Islam masuk ke Tanah Batak, persembahan kerbau telah digunakan dengan tiga alasan. Pengaruh agama Hindu dan Buddha telah lebih dulu masuk ke wilayah Tano Batak.

Menurut pendapat beberapa ahli purbakala, seperti ditulis oleh Ir. Bisuk Siahaan dalam bukunya Batak Toba, ada tiga teori mengenai pengaruh agama Hindu dan Buddha terhadap masyarakat Batak tempo dulu.

Pertama menurut L. J. Warneck: pengaruh Hindu di Tanah Batak datang dari Pulau Jawa. Hal ini terlihat dari beberapa istilah agama yang dikutip dari ajaran Hindu, misalnya Debata (dalam bahasa Batak) yang berasal dari kata Deva (bahasa Hindu-Jawa) dengan arti: Tuhan.

Teori kedua oleh W. Kodding, Edwin M. Loeb, dan J. Tideman: pengaruh agama Hindu di Tanah Batak langsung dari pedagang India. Tampak pada tulisan mitologi, bahasa, kalender, buku Pustaha Laklak, permainan catur, pembakaran mayat, dll.

Pendapat ketiga, yang kurang banyak pendukungnya: pengaruh Hindu di kawasan Batak datang dari Sumatera Selatan.

Di zaman dulu, saat pesta bius, selalu didirikan sebatang tonggak kayu (borotan) berhiaskan daun beringin sebagai simbol Pohon Hidup. Pada borotan ditambatkan seekor kerbau sebagai persembahan bagi Mula Jadi Nabolon.

Kerbau dipersembahkan sebagai kurban dengan tiga alasan:

1. Dianggap sebagai hewan paling kaya dari semua binatang piaraan; mempunyai dua tanduk, empat pusat, dan sangat perkasa.

2. Sepasang tanduk kerbau merupakan lambang keturunan dua nenek moyang orang Batak, yakni Lontung dan Sumba.

3. Kerbau selalu setia membantu manusia, misalnya membajak sawah, agar hasil pertanian melimpah-ruah.

Sumber :http://bataknews.wordpress.com